Caci adalah adu cambuk dan perisai dalam kegiatan seremonial yang dimainkan oleh laki-laki Manggarai di bagian barat Flores, Nusa Tenggara Timur. Dua pemain saling berhadapan: penyerang membawa larik, atau cambuk, sedangkan penangkis menggunakan nggiling, atau perisai. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai menyebutnya sebagai tari perang sekaligus permainan rakyat yang digelar pada syukuran panen, hang woja, dan upacara adat besar lainnya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai.
Caci mempertemukan risiko fisik yang nyata dengan gerak tari, musik, dan perjumpaan sosial di hadapan masyarakat. Tradisi ini menjadi bagian dari koleksi musik dan tari serta pembahasan tarian ritual di Indonesia timur. Peralatan dan lingkungan adatnya membantu menjelaskan bagaimana perjumpaan itu berlangsung.
Cambuk, perisai, dan pergantian peran
Paki adalah pencambuk; ta'ang adalah penangkis. Dalam uraian Hironimus Jampi dan rekan-rekannya pada penelitian tahun 2019, para pemain bergantian menyerang dan bertahan. Kelompok tuan rumah, ata one, bertemu kelompok tamu, ata peang. Uraian mereka membatasi sasaran cambukan pada bagian tubuh di atas pinggang. Ketentuan tersebut menempatkan ketangkasan perseorangan dalam pertukaran yang teratur antarkomunitas. Jampi, Nawir, dan Hadisaputra.
Kulit kerbau digunakan untuk membuat cambuk yang lentur sekaligus perisai pelindung. Alat penangkis tambahan dari rotan, agang, membantu pertahanan. Uraian budaya yang diterbitkan sebuah universitas menjelaskan panggal sebagai penutup kepala dari kulit kerbau dengan bentuk menyerupai tanduk kerbau. Perlengkapan ini memberikan perlindungan, tetapi ketepatan waktu, gerak tubuh, dan kemampuan membaca gerakan lawan tetap menentukan jalannya perjumpaan. Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Syukuran panen di Ngkiong
Satu peristiwa dapat memperjelas konteks tradisi ini. Jurnalis AMAN Rhonal Apolo melaporkan pelaksanaan Caci di kampung Ngkiong, Desa Dora Ngkiong, Manggarai Timur, pada 7 September 2024. Pemimpin adat Rofinus Hatul menghubungkan pertunjukan tersebut dengan syukuran panen dan syukuran rumah adat. Pemain sekaligus pemangku adat Mikael Ane menekankan kesiapan menerima kemungkinan luka dan kekalahan. Laporan AMAN dari Ngkiong.
Lingkungan upacaranya melampaui arena adu cambuk. Penelitian Erna Mena Niman tahun 2022 tentang penti, syukuran Manggarai, membahas hubungan lokasi ritual dengan pandangan terhadap alam dan relasi antarmanusia, serta norma dan larangan yang mengatur kehidupan sosial. Kajian tersebut membantu menjelaskan pentingnya kedudukan pertunjukan dalam rangkaian perayaan. Niman tentang penti.
Musik, busana, dan keterlibatan masyarakat
Dalam laporan Apolo dari Ngkiong, pemain mengenakan celana putih yang dibalut kain songke Manggarai. Lonceng di belakang pinggang berbunyi mengikuti gerak pemain. Laporan itu menyebut gerak mengikuti irama gong dan gendang sebagai lomes, sedangkan syair yang dilantunkan disebut paci. Rincian ini menghubungkan tindakan mencambuk dan menangkis dengan rangkaian bunyi serta penampilan tubuh. AMAN.
Penelitian Martinus Aristo, Dedy Setiawan, dan Ferdinandus Bate Dopo di Wongko Lema, Desa Golo Lebo, Manggarai Timur, juga membahas iringan gong-gendang sebagai sarana menyatukan masyarakat dalam adat. Orang yang tidak beradu cambuk turut mengambil bagian dalam pertemuan tersebut: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai menjelaskan bahwa tetua laki-laki dan perempuan melakukan danding, bergerak membentuk lingkaran di sela permainan. Kajian musik Wongko Lema, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai.
Lawan sebagai mitra dalam perjumpaan
Fransiskus Sailtus dan Pius Pandor menawarkan penafsiran filosofis berdasarkan pengamatan dalam kajian mereka tahun 2024. Mereka menggambarkan pencambuk dan penangkis sebagai pribadi yang mengenali identitas serta peran satu sama lain dan saling menghadapi dengan hormat. Pengakuan timbal balik menjadi pokok argumen mereka. Kajian ini merupakan pembacaan ilmiah terhadap hubungan antarpemain, bukan penjelasan tentang asal-usul historis Caci. Sailtus dan Pandor.
Bagi pembaca museum, perhatian dapat diarahkan pada pertukaran yang memungkinkan cambukan itu berlangsung. Budaya keprajuritan berkuda di Sumba menjadi perbandingan yang berguna karena kontestasi seremonialnya juga memberi kerangka bagi risiko fisik. Perbandingan tersebut menyangkut lingkungan sosial; masing-masing tradisi memiliki peralatan, peserta, dan kalender ritual tersendiri.
Perubahan dalam kehidupan adat
Skripsi Hendrikus Lanur tahun 2019 tentang Desa Wudi mencatat perubahan sejak tahun 2000-an pada partisipasi masyarakat, alat dan bahan, prosesi ritual, serta busana adat perempuan. Tanggapan warga beragam: sebagian menerima pemendekan prosesi atau destar siap pakai, sedangkan sebagian lain menolaknya. Penelitian setempat ini memperlihatkan masyarakat yang aktif merundingkan bentuk tradisinya. Lanur tentang Wudi.
Melihat Caci melalui tempat-tempat yang disebutkan secara jelas membantu menjelaskan keragaman pelaksanaannya. Sejarahnya dibahas di sini melalui praktik terdokumentasi dan keterangan setempat, tanpa menetapkan tanggal awal yang belum didukung bukti.
Menghadirkan pertunjukan di museum
Perisai dalam vitrin hanya merekam sebagian dari Caci. Penafsirannya lebih lengkap jika disertai nama pembuat dan pengguna, komunitas dan acara penggunaannya, uraian musik pengiring, serta penuturan peserta tentang perjumpaan itu. Foto atau rekaman dapat menghubungkan benda yang diam dengan gerak dan lingkungan sosialnya.
Artikel tentang perisai salawaku dan parang Maluku menawarkan jalan lain untuk memahami hubungan perlengkapan pertahanan dengan pertunjukan. Perisai kulit Caci memiliki bentuk dan konteksnya sendiri. Ilustrasi artikel ini menyajikan jenis perlengkapan secara umum; kesaksian komunitas yang dirujuk menjelaskan orang, peristiwa, dan hubungan yang tidak dapat disampaikan oleh gambar saja.
