Gong perunggu Jawa adalah instrumen logam yang dibunyikan dengan cara dipukul dalam perangkat gamelan. Gong gantung besar menandai siklus musikal, sedangkan bentuk gong yang lebih kecil menjalankan peran lain dalam ansambel. Artikel ini berfokus pada Jawa bagian tengah: para pembuat gamelan di Wirun, Sukoharjo, serta tradisi musikal dan pusaka yang didokumentasikan di Keraton Yogyakarta. Sebuah gong mempertemukan keterampilan membentuk logam, mendengarkan resonansi, dan memahami saat yang tepat untuk menabuhnya.
Untuk mengenal perangkat yang mengelilingi instrumen ini, baca musik gamelan dan konteks budayanya. Jelajahi pula koleksi Musik dan Tari.
Gong Berpencon sebagai Benda Penghasil Bunyi
Gong gantung memiliki tonjolan di tengah dan sisi yang dalam dengan bibir melengkung ke dalam pada bagian belakang. Instrumen ini digantung tegak dan ditabuh dengan pemukul berlapis empuk. Glosarium Roger Vetter mendokumentasikan bentuk tersebut pada gong siyem, yang juga disebut suwukan. Dalam kajiannya tentang perangkat Keraton Yogyakarta, gong ageng merupakan gong terbesar, yang pada beberapa perangkat berdiameter satu meter atau lebih. Glosarium instrumen, kajian perangkat keraton.
Ukuran bukan satu-satunya hal yang menentukan bunyi. Tonjolan tengah menjadi bidang pukul; permukaan di sekelilingnya dan sisi gong turut bergetar. Kajian Risnandar dari ISI Surakarta menyebut tonjolan itu pencu dan bidang muka rai, serta menjelaskan pengaturan bagian-bagian badan gong. Risnandar, hlm. 54–57.
Pengecoran, Penempaan, dan Penyelesaian di Wirun
Perunggu yang dibahas di sini merupakan paduan tembaga dan timah. Penelitian tahun 2021 di Wirun Palu Gongso memetakan pembuatan kempul Jawa melalui peleburan, pencetakan, pendinginan, penempaan dan pemeriksaan, pemetakan, penyelesaian akhir, serta pelarasan. Menurut peneliti, gong, bonang, dan kenong menjalani alur produksi serupa, dengan tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan meningkat seiring ukuran. Citrawati dan rekan-rekan, hlm. 36–37.
Pengecoran merupakan satu tahap dalam rangkaian yang lebih panjang. Logam yang sudah membeku masih harus dikerjakan sebelum instrumen dinilai berdasarkan bunyinya. Proses ini melengkapi pembahasan teknik pengecoran logam tradisional di Jawa: pembuatan instrumen membutuhkan pekerjaan penting sesudah logam dituangkan.
Pekerjaan tersebut berlangsung dalam komunitas yang dapat disebutkan secara jelas. Fauziah, Rinawati, dan Hastuti meneliti tiga rumah produksi di Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, pada awal 2021. Mereka mencatat peleburan, pencetakan, penempaan, dan penyelesaian, serta tenaga fisik untuk mengangkat bahan dan menempa instrumen setengah jadi. Tim Citrawati juga mengidentifikasi kebisingan sebagai prioritas perbaikan. Penelitian bengkel ini memasukkan kondisi kerja pembuat ke dalam riwayat benda perunggu yang sudah selesai. Penelitian pekerja Wirun, penelitian bengkel.
Pelarasan Memerlukan Pendengaran Melampaui Tinggi Nada
Pelarasan mempertemukan pengerjaan logam dengan pertimbangan musikal. Risnandar menjelaskan pengaturan bidang muka dan bagian di sekitarnya untuk memperoleh bunyi yang diinginkan, termasuk ombak yang terdengar. Penelitiannya bertumpu pada pengetahuan pelaras, pemilik gamelan, dan seniman yang menggunakan instrumen tersebut. Risnandar.
Rahmat Alkausar dan Hendra Setiawan menguji empat titik pelarasan pada sebuah suwukan berdiameter 70 sentimeter. Dalam percobaan itu, penyesuaian mengubah amplitudo, panjang bunyi, dan ombak, sedangkan frekuensi fundamental dan dominan yang diukur tetap. Hasil ini memberi contoh mengapa pelarasan perlu didengarkan melampaui satu angka tinggi nada: lama dengung dan denyut bunyi juga dapat menjadi pertimbangan. Penelitian akustik suwukan.
Sasaran pelarasan juga terkait dengan perangkatnya. Vetter menjelaskan slendro dan pelog sebagai model laras yang diwujudkan secara berbeda oleh masing-masing gamelan. Model laras keraton. Hubungan ini membantu menjelaskan mengapa pemindahan instrumen antarperangkat merupakan keputusan musikal. Untuk perbandingan regional yang lebih luas, baca gamelan Jawa dan Bali.
Waktu Musikal dan Kehidupan Pusaka
Gong membuat struktur pertunjukan dapat didengar. Penjelasan Smithsonian menyebut siklus di antara tabuhan gong ageng sebagai gongan, yang dibagi oleh gong lebih kecil seperti kenong dan kempul. Contohnya, Ladrang Sri Widada memiliki tiga puluh dua ketukan per gongan. Rekaman ansambel Yogyakarta pada 1 November 2013 memberi kesempatan mendengarkan instrumen tersebut bersama suara penyanyi, instrumen berdawai, dan perkusi lainnya. Pertunjukan dan penjelasan Smithsonian.
Di Keraton Yogyakarta, sebagian perangkat juga berkedudukan sebagai pusaka. Vetter mencatat sesaji yang umumnya ditujukan kepada gong ageng ketika perangkat dipindahkan atau ditabuh untuk upacara. Fotonya mendokumentasikan sesaji bagi K.K. Gunturmadu saat pembukaan Sekaten pada 21 Desember 1982. Catatan ini menjelaskan praktik keraton tertentu, bukan makna yang berlaku bagi setiap gong perunggu. Catatan lapangan Vetter.
Identitas perangkat pusaka dapat berlanjut meskipun beberapa instrumennya diganti. Dalam percakapan tahun 1982, pelaras keraton R.R. Mangkuasmara memberi tahu Vetter bahwa dua gong besar K.K. Gunturmadu dibuat pada masa Sultan Ketujuh untuk menggantikan gong sebelumnya. Riwayat yang diwarisi suatu perangkat dan usia setiap komponen logamnya merupakan dua pertanyaan berbeda. Riwayat pemeliharaan gamelan keraton.
Apa yang Dapat Diperlihatkan dan Diperdengarkan Museum
Objek koleksi yang tercatat memberi dasar perbandingan. Bonang Barung or Kromo di Metropolitan Museum of Art, nomor inventaris 89.4.777a–c, dikatalogkan sebagai objek Jawa dari akhir abad kesembilan belas. Bahannya meliputi perunggu, kayu, kain felt, dan pewarnaan polikrom. Susunan gong mendatarnya memperlihatkan bentuk lain dalam dunia material gamelan. Catatan koleksi Met.
Untuk gong gantung, penyajian yang berguna menghubungkan pencon dan sisi gong dengan pekerjaan pembuat, bunyinya dengan ansambel, serta riwayatnya dengan pemilik atau penabuh yang diketahui. Rekaman menghadirkan hal yang tidak dapat diberikan permukaan benda yang diam: tabuhan, resonansi yang bertahan, dan masuknya bagian berikut dalam siklus musikal. Dengan demikian, perunggu dapat dipahami sebagai bahan yang dibentuk untuk kegiatan mendengarkan bersama.
