Naga Morsarang

Wadah yang digunakan dukun Batak untuk ritual sihir putih atau hitam

Bagikan artikel ini:XFacebookLinkedInWhatsApp
Wadah naga morsarang

Naga morsarang, juga dikenal sebagai sahan, adalah wadah yang digunakan masyarakat Batak di Sumatra Utara untuk menyimpan ramuan dan obat-obatan. Wadah naga morsarang dibuat dari tanduk kerbau air.

Deskripsi

Naga morsarang adalah salah satu dari beberapa jenis wadah tempat para dukun yang disebut datu menyimpan ramuan yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Sebuah wadah naga morsarang yang besar dapat berukuran panjang 52 sentimeter dan lebar 26 sentimeter. Wadah naga morsarang dihias dan diukir dengan motif yang rumit. Ujung runcing tanduk dipahat menjadi bentuk figur laki-laki yang duduk, atau kadang-kadang beberapa laki-laki digambarkan. Mulut tanduk ditutup dengan "tutup" kayu. Tutup kayu ini selalu dipahat menjadi figur singa, sebuah figur religius yang dianggap ilahi atau setengah ilahi, setengah manusia dan setengah ilahi. Selain singa, figur lain dapat digambarkan menunggang singa, seperti kadal Boraspati ni Tano dan figur manusia. Figur manusia ini dapat mewakili dukun datu, pemilik wadah naga morsarang, atau dukun datu sebelumnya serta pemilik wadah sebelumnya. Ada pula yang percaya bahwa figur-figur ini mewakili tokoh dari mitologi Batak.

Figur kadal yang melambangkan dewa bumi Boraspati ni Tano kadang-kadang dipahat di dalam tanduk yang berongga.

Ramuan

Masyarakat Batak percaya bahwa roh orang mati mampu memengaruhi nasib orang hidup. Untuk memperoleh restu roh, mereka melakukan ritual atau pengorbanan yang rumit dengan bantuan dukun datu, yang dianggap sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia supranatural. Datu menggunakan buku-buku magis yang dikenal sebagai pustaha. Isi buku pustaha dapat mencakup metode untuk membuat berbagai jenis ramuan yang digunakan untuk sihir putih maupun sihir hitam. Naga morsarang digunakan sebagai wadah ramuan tersebut.

Salah satu contoh ramuan sihir putih adalah pagar, ramuan yang digunakan seperti jimat untuk melindungi dari kejahatan. Pembuatan pagar sangat sulit dan hanya dapat dilakukan pada hari-hari tertentu yang dianggap baik. Sebagian besar bahan pagar berasal dari tumbuhan, meskipun kadang-kadang kepala ayam, jeroan, dan bulunya juga dimasukkan ke dalam campuran. Bahan-bahan untuk pagar hanya dapat dikumpulkan dari tempat-tempat suci tertentu yang disebut sombaon. Pembuatan pagar bisa memakan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu. Semua bahan kemudian dimasak dan ditumbuk halus menjadi pasta yang disimpan dalam naga morsarang.

Wadah serupa

Versi suku Karo dari wadah Naga Morsarang dikenal sebagai perminaken/parminaken atau guri-guri. Selain dari tanduk kerbau air, perminaken juga dapat dibuat dari bahan lain, misalnya bambu, labu, atau bahkan wadah dari periode Ming yang diimpor dari Tiongkok. Perminaken juga menggunakan tutup kayu berukir figur singa, dan satu orang atau beberapa orang yang digambarkan menunggang singa.