Singa

Figur apotropaik pelindung dari suku Batak di Pulau Sumatra

Bagikan artikel ini:XFacebookLinkedInWhatsApp
Figur singa
Singa

Singa adalah figur apotropaik dalam mitologi suku Batak di Sumatra Utara, Indonesia. Singa melambangkan kekuatan yang baik dan melindungi. Singa digambarkan sebagai "sebagian manusia, sebagian kerbau air, dan sebagian buaya atau kadal". Ia digambarkan dalam berbagai bentuk, tetapi selalu memiliki wajah memanjang, mata besar menonjol, hidung yang tegas, dan janggut panjang berpilin. Figur lain - seperti dewa pelindung atau figur leluhur - juga dapat digambarkan berdiri atau berdiri di atas kepala singa.

Etimologi

Kata singa berasal dari bahasa Sanskerta, di mana singa berarti singa (lion). Bagi suku Batak, singa memiliki makna yang lebih magis daripada zoologis, sehingga tidak melambangkan singa, melainkan Nāga atau Boru Saniang Naga, ular air purba dalam mitologi Hindu-Buddha.

Sebagai ornamen

Gambar singa dipahat pada berbagai objek, seperti peralatan rumah tangga, wadah untuk bahan obat-obatan, perhiasan, jimat, peti kayu, sarkofagus batu, lumbung, dan rumah tradisional Batak. Penggunaan yang sering membuat singa menjadi simbol budaya Batak. Ukiran singa yang diterapkan pada rumah Batak disebut singa ni ruma atau "singa rumah".

Penggunaan apotropaik figur singa mungkin berasal dari periode Hindu-Buddha Batak pada abad ke-9 (suku Batak kini mayoritas Kristen dan Muslim). Salah satu ciri utama arsitektur Hindu-Buddha di Jawa dan Bali adalah figur kirtimukha (monster mitologis) yang ada di atas lengkungan dan pintu. Pada periode gaya Aparajita awal abad ke-9, versi Batak dari kirtimukha yang disebut singhamugam muncul dan menyebar.