Di seluruh Indonesia timur, laut bukan sekadar ruang di antara pulau-pulau. Laut dapat menjadi jalan, tempat kerja, sumber pangan, medan ingatan, dan lingkungan tempat keluarga belajar membangun rasa memiliki. Komunitas Sama-Bajau—yang di Indonesia sering disebut Bajo—mengembangkan hubungan yang sangat erat dengan dunia maritim ini. Permukiman mereka terdapat di sepanjang pesisir Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil bagian timur, di dalam dunia Sama-Bajau yang lebih luas hingga Filipina selatan dan Sabah.
Gambaran populer sering menyebut Sama-Bajau sebagai “pengembara laut”, tetapi istilah ini dapat menyembunyikan sama banyaknya dengan yang dijelaskannya. Tidak semua komunitas Sama-Bajau hidup di atas perahu, dan mereka yang melakukannya tidak pernah terpisah dari pasar, penguasa politik, atau tetangga di pesisir. Karena itu, pendekatan museum dimulai dari keragaman. Pendekatan ini menanyakan bagaimana perahu, alat, pengetahuan lisan, nyanyian, dan permukiman merekam beragam cara hidup bersama laut—serta bagaimana cara-cara itu berubah.
Dunia Maritim yang Lebih Luas daripada Satu Sebutan
Sama-Bajau merupakan istilah payung bagi komunitas-komunitas yang berkerabat tetapi beragam. Penelitian sejarah dan bahasa menggambarkan bentang luas kelompok yang berorientasi pada laut, pesisir, dan darat, bukan satu penduduk yang seragam. Keluarga penghuni perahu membentuk satu bagian khas dari bentang ini. Kelompok lain hidup di rumah panggung di atas perairan dangkal, desa pesisir, atau permukiman yang memiliki hubungan kuat dengan darat sekaligus laut. Bahkan komunitas dengan bahasa atau nama yang sama dapat berbeda dalam mata pencaharian, praktik keagamaan, mobilitas, dan ikatan politik.
Keragaman ini membuat penggunaan istilah secara hati-hati menjadi penting. “Pengembara laut” dapat menunjuk pada sejarah perpindahan, tetapi juga dapat memberi kesan bahwa orang bergerak tanpa tujuan atau hidup di luar sejarah. Dalam praktiknya, perpindahan mengikuti pengetahuan: wilayah tangkap musiman, tempat berlabuh yang terlindung, hubungan dagang, ikatan keluarga, serta akses terhadap air tawar atau perbekalan. Mobilitas maritim merupakan praktik sosial yang tertata, bukan ketiadaan rumah. Rumah dapat dibentuk melalui orang, rute, dan tempat yang diingat, sama kuatnya dengan melalui tanah yang tetap.
Lepa sebagai Hunian, Kendaraan, dan Ruang Kerja
Dalam berbagai catatan tentang kehidupan Bajo Indonesia, perahu kayu yang disebut lepa tampil lebih dari sekadar alat angkut. Bagi sebagian keluarga, lepa menjadi hunian tempat kehidupan sehari-hari berlanjut sambil berpindah di antara wilayah tangkap dan tempat berlabuh. Sebuah perahu ringkas harus memuat alat, perlengkapan memasak, air, hasil tangkapan, dan barang yang dibutuhkan rumah tangga. Ruangnya terbatas sehingga setiap benda mendapatkan tempat melalui penggunaan berulang. Perahu sekaligus menjadi kendaraan, tempat kerja, ruang penyimpanan, dan ruang domestik.
Karena itu, menafsirkan lepa di museum berarti menafsirkan sebuah ruang sosial. Lambung dan kelengkapannya dapat mengungkap pengetahuan pertukangan kayu, praktik perbaikan, dan penyesuaian terhadap perairan setempat, sedangkan susunan benda sehari-hari dapat memberi gambaran tentang cara keluarga mengatur tidur, menyiapkan makanan, menangkap ikan, dan bepergian. Namun, satu perahu yang dilestarikan tidak dapat mewakili setiap komunitas atau masa. Nama dan bentuk perahu berbeda-beda di seluruh dunia Sama-Bajau, dan perahu pun berubah ketika mesin, bahan baru, tuntutan pasar, serta pola permukiman mengubah kerja maritim.
Membaca Terumbu, Cuaca, dan Wilayah Tangkap
Perahu hanya berguna melalui pengetahuan yang mengarahkannya. Tradisi penangkapan ikan Bajo di Sulawesi Tenggara mencakup beragam teknologi yang dirancang untuk spesies, kedalaman, musim, dan lingkungan laut yang berbeda. Jaring, tali pancing, tombak, perangkap, serta praktik menyelam bukanlah alat yang dapat saling menggantikan. Masing-masing menjadi bagian dari keputusan tentang ke mana harus pergi, kapan bekerja, kondisi apa yang aman, dan bagaimana hasil tangkapan akan dikonsumsi atau dipertukarkan. Keterampilan tidak hanya terletak pada penggunaan alat, tetapi juga pada kemampuan membaca lingkungan hidup di sekitarnya.
Pembacaan tersebut dapat mencakup arus, pasang surut, angin, bentuk awan, warna air, bentuk terumbu, dan perilaku satwa laut. Pengetahuan ini dipelajari melalui pengamatan dan keterlibatan, bukan melalui satu buku pedoman tertulis. Anak muda menyertai kerabat yang berpengalaman, mengamati cara rute dipilih, dan secara bertahap menghubungkan nama serta cerita dengan tempat tertentu. Peta batin yang dihasilkan bersifat ekologis sekaligus sosial: suatu wilayah tangkap dapat pula terkait dengan kerabat, perjalanan masa lalu, bahaya, pertukaran, atau harapan adat.
Penangkapan Ikan, Perdagangan, dan Sejarah Regional
Kehidupan maritim Sama-Bajau tidak pernah hanya menjadi kisah pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kajian sejarah menempatkan nelayan, penyelam, dan pengangkut khusus di dalam sistem perdagangan yang lebih luas. Hasil laut seperti ikan kering, teripang, kerang, dan sumber daya terumbu lainnya menghubungkan komunitas bergerak dengan pasar pesisir dan pusat politik. Di Indonesia timur, pelayaran Bajo beririsan dengan jaringan niaga Bugis dan Makassar serta kebutuhan negara-negara regional. Keahlian mereka membantu memindahkan sumber daya melalui kepulauan yang ekonominya bergantung pada jalur air.
Hubungan tersebut memperumit citra romantis tentang kebebasan penuh di laut. Perdagangan menciptakan peluang, tetapi juga dapat menghasilkan ketergantungan, hubungan patronase yang timpang, dan tekanan terhadap sumber daya laut. Batas politik kemudian memotong rute-rute lama, sementara perizinan, aturan konservasi, penangkapan ikan industri, dan perubahan pasar membentuk ulang akses terhadap laut. Pameran museum yang bertanggung jawab sebaiknya menempatkan alat tangkap bersama peta, barang dagang, dan catatan peraturan. Secara bersama, benda-benda itu menunjukkan bahwa keterampilan maritim selalu bekerja di dalam kondisi ekonomi dan politik.
Dari Hunian Perahu menuju Permukiman Pesisir
Sebagian besar orang Bajo Indonesia kini tinggal di permukiman tetap. Perpindahan menuju desa rumah panggung dan rumah di pesisir berkembang melalui banyak tekanan, bukan satu peralihan universal. Pemerintahan kolonial dan pascakolonial cenderung menyukai penduduk yang dapat didata, disekolahkan, dikenai pajak, dan dilayani di lokasi tetap. Akses terhadap klinik, pasar, lembaga keagamaan, pekerjaan berupah, dan pendidikan formal juga membuat hidup menetap menjadi menarik atau perlu bagi banyak keluarga. Di sejumlah tempat, kemerosotan lingkungan dan pembatasan penangkapan ikan menambah tekanan.
Hidup menetap tidak serta-merta mengakhiri identitas maritim. Rumah di atas perairan dangkal dapat mempertahankan akses langsung ke perahu, tempat pendaratan, dan rumah tetangga, sementara pekerjaan sehari-hari masih mengikuti musim tangkap serta kondisi laut. Pada saat yang sama, hidup di darat mengubah ruang domestik, pendidikan, kepemilikan, dan irama perjalanan. Komunitas masa kini berada pada spektrum yang luas: sebagian sangat bergantung pada penangkapan ikan, sebagian menggabungkan kerja laut dengan perdagangan atau pekerjaan berupah, dan sebagian lain mempertahankan ikatan budaya dengan laut tanpa bergantung padanya untuk setiap mata pencaharian.
Warisan yang Dibawa dalam Kata, Bunyi, dan Praktik
Karena rumah tangga bergerak tidak dapat membawa kumpulan benda berukuran besar, banyak warisan Bajo Indonesia diwariskan dalam bentuk yang mudah dibawa. Para peneliti mencatat tradisi nyanyian, tuturan, puisi, pengetahuan penyembuhan, dan kosakata khusus yang kuat. Tuturan panjang yang dinyanyikan dan dikenal sebagai iko-iko merupakan contoh sangat penting tentang cara sejarah dan ingatan budaya dapat bergerak melalui pertunjukan. Pengetahuan bertahan ketika orang mengingat, mengulang, menyesuaikan, dan mengajarkannya.
Warisan takbenda ini menghadirkan tantangan bagi museum. Perahu yang dipamerkan tanpa suara dapat tampak hanya sebagai benda teknis, sedangkan alat tangkap yang dipisahkan dari petunjuk tidak lagi dapat menunjukkan pertimbangan yang diperlukan untuk menggunakannya. Rekaman, wawancara komunitas, nama tempat, nyanyian, dan demonstrasi dapat memulihkan sebagian hubungan tersebut. Penafsiran yang etis juga memerlukan kerja sama: orang Sama-Bajau harus disajikan sebagai pemilik pengetahuan masa kini, bukan sebagai sisa-sisa masa lalu maritim yang sedang menghilang.
Museum, Konservasi, dan Masa Depan Pesisir yang Hidup
Konservasi laut kini menjadi bagian dari kisah budaya. Terumbu karang, mangrove, dan perikanan menghadapi tekanan dari ekstraksi merusak, pencemaran, laut yang memanas, dan persaingan atas ruang pesisir. Pengetahuan Bajo dapat menyumbangkan pengamatan terperinci tentang lingkungan lokal, tetapi tidak seharusnya diromantisasi sebagai sesuatu yang otomatis seragam atau sempurna dalam konservasi. Komunitas menanggapi pasar, kemiskinan, peraturan, dan perubahan ekologi dalam keadaan yang berbeda-beda, sebagaimana masyarakat pesisir lainnya.
Museum dapat menampilkan ketegangan ini tanpa mengubah budaya menjadi tuduhan. Sebuah pameran dapat menghubungkan model lepa, alat tangkap, kesaksian lisan, peta terumbu, dan foto masa kini dari permukiman panggung. Pameran itu dapat menanyakan siapa yang menguasai wilayah laut, pengetahuan siapa yang membentuk kebijakan, dan bagaimana generasi muda menggabungkan sekolah dengan keterampilan warisan. Dalam kerangka ini, warisan bukan nostalgia. Warisan adalah sumber daya untuk memperdebatkan bagaimana martabat budaya dan laut yang sehat dapat bertahan bersama.
Kesimpulan
Sejarah pengetahuan maritim Sama-Bajau di Indonesia timur bermula dari perahu, tetapi tidak berakhir di sana. Lepa mempertemukan perpindahan, kehidupan rumah tangga, penangkapan ikan, perbaikan, dan ingatan, sementara rute serta tempat berlabuh mengungkap geografi yang dibentuk melalui pengalaman. Permukiman pesisir mengubah dunia ini, tetapi tidak menghapus arti budaya laut.
Bagi pengunjung museum, pelajaran utamanya adalah bahwa rumah tidak harus dipahami hanya sebagai tanah dan dinding yang tetap. Rumah juga dapat berupa hubungan yang terus dipraktikkan antara keluarga, perahu, air, kerja, dan cerita. Karena itu, melestarikan warisan Sama-Bajau berarti lebih dari merawat perahu tua. Hal itu berarti menghormati pengetahuan hidup yang dahulu mengarahkannya dan terus memberi makna kepada tempat-tempat maritim.
