Tunggal panaluan
Tunggal panaluan adalah tongkat sakral yang digunakan oleh dukun (shaman) suku Batak, yang tinggal di dataran tinggi Sumatra Utara, Indonesia. Secara tradisional, tunggal panaluan dibuat dari kayu pohon tertentu, dipahat dengan figur manusia, dan dihiasi rambut kuda serta otak manusia yang dimasak, keduanya diperoleh dari korban ritual pengorbanan.
Bentuk
Tunggal panaluan diukir dari kayu Cassia javanica, satu-satunya pohon yang dapat digunakan untuk membuat tunggal panaluan. Pohon ini menempati posisi sentral dalam mitos leluhur Batak, demikian pula figur-figur yang diukir pada tongkat. Sebuah tunggal panaluan berisi figur manusia dan hewan yang disusun bertingkat. Hewan yang diukir pada tunggal panaluan mencakup ular, naga, tokek, dan kerbau air. Jenis tongkat sakral lain, yang dikenal sebagai tunggal malehat, biasanya menampilkan seorang pria menunggang kuda atau makhluk mitologis.
Penggunaan
Tunggal panaluan digunakan dalam upacara untuk menghindari bencana dan penyakit, sekaligus untuk menimbulkannya. Untuk menanamkan kekuatan magis pada tongkat, datu (dukun) terlebih dahulu membuat lubang pada tongkat tempat memasukkan zat magis yang disebut pupuk. Pembuatan zat ini juga melibatkan sisa-sisa tubuh anak yang dikorbankan yang telah membusuk.
Variasi
Tungkot malehat adalah varian lain dari tunggal panaluan. Sebagian besar tongkat tungkot malehat dibuat dan digunakan oleh suku Karo. Tongkat ini memiliki desain yang lebih sederhana daripada jenis tunggal panaluan. Tunggal panaluan diukir dengan sangat rinci hingga ke bagian bawah, sementara tungkot malehat tidak diukir secara keseluruhan. Satu-satunya bagian yang diukir pada tongkat tungkot malehat adalah bagian atas, biasanya dipahat dengan figur manusia yang menunggang singa (figur apotropaik) atau kuda. Tungkot malehat dianggap sebagai versi tunggal panaluan yang lebih modern dan baru.
