Wayang golek adalah seni pertunjukan yang menggunakan boneka kayu tiga dimensi dengan tangkai penggerak. Dalam tradisi Sunda di Jawa Barat, seorang dalang menghidupkan tokoh, mengisi suaranya, dan membangun cerita bersama para penabuh serta penyanyi. Penonton menyaksikan wujud wayang secara langsung, bukan terutama melalui bayangan pada layar. Artikel ini membahas wayang golek purwa Sunda, yang mengambil cerita dari dunia Ramayana dan Mahabharata.
Wayang yang dipajang di museum hanya memperlihatkan sebagian dari kesenian tersebut. Wajah ukiran, lengan bersendi, dan busana kainnya dibuat agar dapat bergerak sekaligus dikenali. Untuk memahami benda ini, kita juga perlu memperhatikan percakapan, tanggapan musikal, serta hubungan yang terus berkembang antara para pemain dan penontonnya.
Tradisi Sunda dalam Keluarga Wayang
Istilah wayang mencakup beragam tradisi pertunjukan, bukan satu jenis boneka yang seragam. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya membedakan golek berbahan kayu dan berbentuk tiga dimensi dari wayang berbahan kulit, serta menyebut wilayah barat Pulau Jawa sebagai lingkungan penting perkembangannya. Di dalam keluarga golek sendiri, cerita dan praktik daerah mempunyai peranan besar. Keterangan “wayang Indonesia” saja belum cukup menjelaskan kekhususan sebuah benda. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
Buku acara Smithsonian tahun 2014, yang disusun bersama ahli seni Indonesia, membedakan golek purwa Sunda dari tradisi wayang cepak dengan sumber cerita lainnya. Bentuk golek purwa yang dikenal sekarang ditempatkan pada abad kesembilan belas, sambil mencatat hubungan pesisir yang lebih tua serta legenda tentang para wali. Keterangan tersebut memiliki kedudukan berbeda: legenda seorang wali tidak boleh langsung dijadikan tanggal pasti penciptaan wayang. Smithsonian: Performing Indonesia.
Kayu, Kain, dan Tangkai Penggerak
Reading Museum menjelaskan adanya tangkai utama yang melewati badan hingga kepala, serta tangkai tambahan yang terhubung dengan kedua tangan. Dalang menggerakkan wayang dari bawah. Lengan bersendi memungkinkan berbagai gerak, sementara kepala ukiran menghadirkan sosok tokoh di atas busananya. Susunan ini berbeda dari figur kulit pipih yang dibahas dalam artikel tentang wayang kulit dan pandangan dunia Jawa. Reading Museum: konstruksi wayang.
Sebuah koleksi Spencer Museum of Art memperlihatkan perpaduan bahan tersebut secara nyata. Benda bernomor 2007.1537 menggunakan kayu, kain, pita, kawat, dan cat. Busananya terdiri atas baju beludru hitam dan kain batik bercorak; tangkai pada tangan digunakan untuk menggerakkannya. Rincian ini mengajak kita melihat lebih jauh daripada hasil ukiran: pembuatan busana, pengecatan, dan perakitan turut membentuk benda pertunjukan yang akhirnya digunakan dalang. Catatan koleksi Spencer Museum.
Mengenali Tokoh melalui Gerak
Bentuk wajah merupakan bagian dari bahasa pertunjukan. Materi pendidikan Reading Museum membandingkan tokoh halus yang bermata sipit dan berpandangan menunduk dengan tokoh yang lebih kuat, berwajah lebar, serta menatap langsung. Konvensi tersebut membantu memperkenalkan peran sebelum percakapan mengembangkannya. Pemaknaannya perlu ditempatkan dalam tradisi pertunjukan, bukan digunakan untuk menilai sifat manusia nyata berdasarkan penampilan atau bentuk wajah mereka. Reading Museum: bentuk tokoh.
Pengunjung museum dapat mencoba memperhatikan hubungan antara wajah, tangan, dan sikap tubuh. Apa yang berubah ketika kepala berpaling, lengan terangkat, atau sebuah gerakan tiba-tiba berhenti? Pertanyaan ini tidak dengan sendirinya memastikan nama tokoh. Namun, cara melihat demikian membantu mengembalikan perhatian kepada kemungkinan geraknya, yang mudah terlupakan ketika wayang hanya dilihat melalui foto diam atau dipajang tegak di dalam lemari.
Dalang dan Para Pendukung Musik
Pekerjaan dalang menyatukan beberapa kecakapan: menggerakkan wayang, berdialog, menyanyi, serta mengatur jalannya pertunjukan. Namun, keberhasilan pentas tetap merupakan kerja bersama. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut gamelan Sunda berlaras salendro sebagai pengiring, dengan perangkat yang antara lain mencakup kendang, gong, saron, gambang, dan rebab. Bunyi ansambel membangun suasana bagi tindakan para tokoh; fungsinya jauh melampaui hiasan suara di belakang cerita. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya: iringan.
Pencantuman nama para pemain membuat kerja bersama itu terlihat. Pertunjukan Smithsonian tahun 2014 mencantumkan Kathy Foley sebagai dalang, para nayaga STSI Bandung, Masyuning sebagai pasinden, serta Undang Sumarna sebagai pemain kendang. Pengakuan terhadap peran masing-masing mencegah perhatian hanya tertuju pada boneka atau dalang. Kebutuhan untuk saling memperhatikan dapat dibandingkan dengan praktik ansambel angklung di Jawa Barat, meskipun alat serta cara bermainnya berbeda. Smithsonian: acara dan pendukung pertunjukan.
Cerita Epos dan Ruang Penciptaan
Ramayana dan Mahabharata menyediakan dunia cerita yang penting, tetapi sebuah pertunjukan tidak harus menyampaikan seluruh epos. Satu lakon memilih bagian cerita lalu mengembangkan pertemuan antartokohnya. Dokumentasi kebudayaan Indonesia membedakan lakon galur dan carangan, yakni cerita ciptaan yang berkembang dalam dunia pewayangan. Pembedaan ini memberi tempat bagi daya cipta dalang tanpa menganggap bahwa setiap pementasan harus meninggalkan tokoh dan hubungan yang diwariskan. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya: lakon.
Bagi penonton yang baru mengenal ceritanya, pertanyaan sederhana dapat lebih membantu daripada langsung mencari makna keseluruhan epos. Siapa yang sedang berbicara, apa keinginannya, dan bagaimana tokoh lain menjawab? Dengan mengikuti satu percakapan, penonton dapat memberi ruang bagi persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban tunggal. Kesetiaan, kekuasaan, atau tanggung jawab dapat dipikirkan melalui cerita tanpa menjadikan setiap adegan sebagai satu semboyan moral yang sama.
Hajatan, Ritual, dan Hiburan
Wayang golek hadir dalam pertemuan sosial maupun acara yang khusus diselenggarakan untuk pertunjukan. Reading Museum mencatat pementasan pada perkawinan, khitanan, dan berbagai perayaan lain, dengan penonton yang dapat berpindah tempat sambil mendengarkan atau melihat. Dengan demikian, peristiwa itu lebih luas daripada cerita di panggung: tuan rumah, tamu, pedagang makanan, dan pemusik ikut membentuk suasananya. Pengalaman tersebut berbeda dari mengamati benda museum dalam keheningan. Reading Museum: lingkungan pementasan.
Sebagian pertunjukan juga memiliki tujuan ritual. Buku acara Smithsonian membahas ruwatan, yang ditujukan untuk melepaskan orang atau tempat dari pengaruh buruk, bersama fungsi hiburan. Konteks tersebut perlu dijelaskan sesuai pertunjukan yang dibicarakan; tidak berarti semua pentas golek menjalankan ritual yang sama. Tujuan spiritual, kesenangan menonton, dan pertemuan masyarakat dapat hadir bersamaan, tetapi ketiganya tetap perlu dijelaskan dengan cermat. Smithsonian: konteks upacara.
Membaca Wayang sebagai Koleksi Museum
Catatan koleksi dapat memastikan bahan dan riwayat pengumpulan sambil menyisakan pertanyaan penting. Spencer Museum mencatat pembuat wayangnya sebagai tidak diketahui dan memberikan rentang penanggalan luas yang berakhir pada 1979. Keterangan demikian lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada menambahkan nama seniman atau tahun pasti tanpa bukti. Penafsiran yang baik mempertahankan batas pengetahuan tersebut sambil menjelaskan apa yang benar-benar dapat dilihat melalui bahan dan mekanismenya. Spencer Museum: pembuat dan penanggalan.
Pengunjung dapat menanyakan apakah penggunaan sebuah wayang dalam pentas pernah didokumentasikan, siapa pembuat atau pengumpulnya, serta apakah penamaan tokohnya berasal dari seniman atau katalog belakangan. Pertanyaan ini tidak mengurangi kenikmatan melihat ukiran. Sebaliknya, penghargaan terhadap benda dihubungkan dengan bukti, sementara orang yang membuat, memegang, memperbaiki, dan menyuarakannya tetap memperoleh tempat dalam penjelasan museum kepada masyarakat.
Penutup
Wayang golek Sunda mempertemukan keterampilan mengolah bahan dengan keputusan yang terus berubah dalam penceritaan langsung. Kepala kayu dan lengan bersendi menjadi tokoh melalui suara, musik, dan gerak. Lingkungan Jawa Barat memberi kekhususan kepada unsur-unsur tersebut, meskipun ceritanya disampaikan dalam bahasa lain atau bendanya hadir di museum yang jauh dari penonton asalnya.
Jelajahi koleksi Pertunjukan dan Penceritaan untuk mengenal tradisi terkait. Ketika kembali mengamati sebuah golek, mulailah dari susunannya, lalu pikirkan koordinasi yang diperlukan untuk menghidupkannya. Benda ini mengundang pengamatan dekat, tetapi penjelasan yang lebih lengkap juga memberi tempat kepada para pemain dan pendengar yang hadir di sekelilingnya.
