Figur Laki-Laki dan Perempuan dari Tanduk Kerbau Asal Lombok

Kajian mengenai sepasang figur laki-laki dan perempuan dari tanduk kerbau asal Lombok, yang kemungkinan digunakan sebagai wadah kapur dalam tradisi mengunyah sirih di Indonesia.

Bagikan artikel ini:XFacebookLinkedInWhatsApp
carved buffalo horn betel containers from lombok

Deskripsi Objek

Dua objek yang dibahas di sini adalah figur laki-laki dan perempuan yang dipahat dari tanduk kerbau dan diperoleh di Lombok. Masing-masing figur dilubangi bagian dalamnya dan dirancang dengan kepala yang dapat dilepas, menunjukkan fungsi praktis dan bukan sekadar dekoratif. Berdasarkan bentuknya dan perbandingan dengan contoh etnografis yang terdokumentasi dari Indonesia serta wilayah lain di Asia Tenggara, objek-objek ini kemungkinan digunakan sebagai wadah yang berkaitan dengan persiapan dan konsumsi sirih, khususnya untuk menyimpan kapur.

Figur-figur tersebut dibuat dalam bentuk antropomorfik, dengan tubuh yang digayakan dan ciri gender yang dibedakan secara jelas. Kepala yang dapat dilepas berfungsi sebagai penutup, menyembunyikan rongga di dalam tubuhnya. Penggunaan tanduk kerbau memberikan ketahanan sekaligus permukaan gelap khas yang dapat dipoles hingga halus. Material ini sendiri memiliki makna budaya di banyak masyarakat Indonesia, di mana kerbau dihargai karena perannya dalam pertanian, ekonomi, dan upacara adat.

Tradisi Mengunyah Sirih dalam Konteks Indonesia

Mengunyah sirih, yaitu praktik mengunyah buah pinang yang dipadukan dengan daun sirih dan kapur, memiliki sejarah panjang yang terdokumentasi di seluruh Asia Tenggara kepulauan. Bukti arkeologis dan historis menunjukkan bahwa praktik ini telah ada sebelum kedatangan bangsa Eropa dan tersebar luas di Indonesia, termasuk di Lombok serta wilayah tetangga seperti Bali dan Sumbawa. Persiapan campuran sirih secara tradisional melibatkan beberapa komponen: buah pinang, daun sirih, kapur, dan terkadang bahan tambahan seperti gambir atau tembakau.

Wadah untuk bahan-bahan tersebut secara historis dibuat dari berbagai material, termasuk logam, kayu, bambu, dan tanduk. Wadah kapur khususnya sering dibuat dengan cermat, karena kapur harus dijaga tetap kering dan mudah diambil dalam jumlah kecil. Wadah kapur berbentuk antropomorfik terdokumentasi di berbagai wilayah Indonesia bagian timur, di mana bentuknya kadang menyerupai figur manusia dengan kepala atau penutup yang dapat dilepas.

Meskipun atribusi pasti figur-figur dari Lombok ini kepada bengkel tertentu atau kelompok etnis tertentu memerlukan penelitian komparatif lebih lanjut, strukturnya sejalan dengan tradisi yang lebih luas mengenai wadah kapur portabel yang digunakan dalam konteks sehari-hari maupun upacara.

Material dan Tradisi Kerajinan

Tanduk kerbau telah digunakan di Indonesia untuk membuat alat, perhiasan, dan benda ritual. Kekuatan serta kemudahannya untuk dibentuk memungkinkan pemahatan yang detail, sementara lengkungan alaminya dapat memengaruhi bentuk akhir suatu objek. Di beberapa wilayah, wadah dari tanduk dikaitkan dengan perlengkapan pribadi atau set sirih yang dibawa oleh laki-laki maupun perempuan.

Desain dengan kepala yang dapat dilepas menunjukkan solusi praktis untuk menutup isi di dalamnya. Pada contoh yang terdokumentasi dari pulau-pulau lain di Indonesia bagian timur, wadah serupa memiliki penutup pahatan yang menyatu dengan badan melalui sistem pas tekan. Desain ini meminimalkan risiko tumpah dan melindungi kapur dari kelembapan.

Figur manusia dalam seni Indonesia mencakup berbagai bentuk, mulai dari representasi leluhur hingga motif dekoratif pada benda sehari-hari. Namun, tanpa informasi asal-usul yang jelas atau dokumentasi lapangan, akan bersifat spekulatif untuk menetapkan makna ritual atau simbolik tertentu pada kedua figur ini. Oleh karena itu, lebih tepat untuk memahaminya terutama dalam kerangka fungsional budaya sirih, sambil mengakui kemungkinan adanya dimensi estetis dan simbolik.

Lombok dan Konteks Regional

Lombok, yang terletak di sebelah timur Bali, telah lama menjadi bagian dari jaringan perdagangan regional yang menghubungkan Jawa, Bali, Sumbawa, dan pulau-pulau di wilayah timur. Praktik budaya di Lombok mencerminkan tradisi lokal masyarakat Sasak sekaligus pengaruh dari wilayah sekitarnya. Mengunyah sirih secara historis umum dilakukan di komunitas-komunitas ini dan menjadi bagian dari interaksi sosial, keramahan, serta pertukaran seremonial.

Di banyak masyarakat Indonesia, menawarkan sirih merupakan bentuk penghormatan dan penyambutan. Objek-objek yang digunakan dalam persiapannya dapat memiliki makna sosial di luar fungsi praktisnya. Bahkan wadah kapur yang sederhana pun dapat mencerminkan identitas pribadi, keterampilan perajin, dan gaya regional.

Kesimpulan

Sepasang figur laki-laki dan perempuan yang dipahat dari tanduk kerbau asal Lombok ini kemungkinan berfungsi sebagai wadah kapur dalam tradisi mengunyah sirih yang lebih luas. Bentuk antropomorfik dan kepala yang dapat dilepas memadukan desain praktis dengan ekspresi artistik. Meskipun rincian historis spesifik mengenai benda-benda ini masih belum dapat dipastikan tanpa penelitian lebih lanjut, keduanya dapat dipahami dalam konteks budaya material Asia Tenggara yang terdokumentasi dengan baik, yang berkaitan dengan persiapan sirih, keramahan, dan kehidupan sehari-hari.

Sebagai objek dalam koleksi pribadi, keduanya merupakan penghubung nyata dengan praktik yang telah berlangsung lama dalam masyarakat Indonesia dan menunjukkan bagaimana benda utilitarian sering kali dibentuk dengan perhatian estetis serta makna budaya.

Note: The objects illustrated in this article are part of the author's private collection.