Topeng dan Patung adalah ruang kuratorial untuk membaca topeng, patung, figur leluhur, kotak berukir, wadah tanduk, dan bentuk antropomorfik yang menjadi perantara identitas serta kehadiran secara lebih perlahan, bukan sekadar daftar artikel. Halaman ini membantu pembaca melihat bagaimana artefak, konteks sejarah, dan perubahan makna budaya saling terhubung dari waktu ke waktu. Topeng antropomorfik dan bentuk pahatan dari kepulauan Indonesia. Dengan cara ini, setiap tulisan ditempatkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang memori, identitas, teknik, kepercayaan, dan cara warisan Indonesia dipahami kembali pada masa kini.
Koleksi dalam topik ini saat ini memuat 6 artikel, termasuk Topeng Jawa dan Bali: Karakter, Pertunjukan, dan Transformasi, Kotak Penyimpanan Kayu Berukir dari Lombok dengan Pengaruh Bali dan Motif Penjaga serta Naga dan Sendok Nasi Ukir dari Tanduk Kerbau Asal Lombok. Jumlah tersebut akan terus berkembang ketika sumber, objek, atau sudut pandang baru ditambahkan. Setiap artikel disusun dengan perhatian pada keterlacakan informasi: apa yang dapat diketahui dari sumber, bagian mana yang masih bersifat interpretatif, dan bagaimana suatu objek dibaca dalam hubungan dengan masyarakat yang menggunakannya. Jika sumber tidak sepenuhnya sejalan, perbedaan itu dijelaskan agar pembaca dapat menilai bukti secara lebih kritis.
Fokus khusus halaman ini mencakup ukiran topeng, penggambaran leluhur, seni patung Lombok, ukiran figur Papua, citra pada wadah sirih, dan bentuk pelindung atau pertunjukan. Pendekatan museum penting karena budaya material jarang memiliki satu makna saja. Sebuah benda dapat berfungsi sebagai alat praktis, tanda status, bagian dari upacara, bukti pertukaran, atau penanda ingatan keluarga. Sebuah tradisi juga dapat berubah ketika berpindah tempat, masuk ke lingkungan kerajaan, berjumpa dengan agama baru, atau dipresentasikan ulang dalam museum.
Secara praktis, halaman ini dapat digunakan sebagai peta awal. Pembaca dapat mulai dari satu artikel, lalu membandingkan istilah, bahan, wilayah, gaya visual, fungsi sosial, dan sumber sejarah di artikel lain. Tujuannya bukan hanya menyampaikan fakta terpisah, melainkan membangun pemahaman bertahap yang semakin kuat ketika pembaca bergerak dari satu objek ke objek berikutnya. Dalam bentuk seperti ini, topik menjadi arsip hidup yang terbuka terhadap pembaruan, koreksi, dan pengetahuan baru.