Topeng dan Patung adalah ruang kuratorial untuk membaca masks, sculpture, ancestor figures, carved boxes, horn containers, and anthropomorphic forms that mediate identity and presence secara lebih perlahan, bukan sekadar daftar artikel. Halaman ini membantu pembaca melihat bagaimana artefak, konteks sejarah, dan perubahan makna budaya saling terhubung dari waktu ke waktu. Topeng antropomorfik dan bentuk pahatan dari kepulauan Indonesia. Dengan cara ini, setiap tulisan ditempatkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang memori, identitas, teknik, kepercayaan, dan cara warisan Indonesia dipahami kembali pada masa kini.
Koleksi dalam topik ini saat ini memuat 5 artikel, termasuk Kotak Penyimpanan Kayu Berukir dari Lombok dengan Pengaruh Bali dan Motif Penjaga serta Naga, Sendok Nasi Ukir dari Tanduk Kerbau Asal Lombok dan Figur Leluhur Berdiri dengan Tongkat: Ukiran Papua dari Indonesia Timur. Jumlah tersebut akan terus berkembang ketika sumber, objek, atau sudut pandang baru ditambahkan. Setiap artikel disusun dengan perhatian pada keterlacakan informasi: apa yang dapat diketahui dari sumber, bagian mana yang masih bersifat interpretatif, dan bagaimana suatu objek dibaca dalam hubungan dengan masyarakat yang menggunakannya. Jika sumber tidak sepenuhnya sejalan, perbedaan itu dijelaskan agar pembaca dapat menilai bukti secara lebih kritis.
Fokus khusus halaman ini mencakup mask carving, ancestor representation, Lombok sculpture, Papua figure carving, betel container imagery, and protective or performative forms. Pendekatan museum penting karena budaya material jarang memiliki satu makna saja. Sebuah benda dapat berfungsi sebagai alat praktis, tanda status, bagian dari upacara, bukti pertukaran, atau penanda ingatan keluarga. Sebuah tradisi juga dapat berubah ketika berpindah tempat, masuk ke lingkungan kerajaan, berjumpa dengan agama baru, atau dipresentasikan ulang dalam museum.
Secara praktis, halaman ini dapat digunakan sebagai peta awal. Pembaca dapat mulai dari satu artikel, lalu membandingkan istilah, bahan, wilayah, gaya visual, fungsi sosial, dan sumber sejarah di artikel lain. Tujuannya bukan hanya menyampaikan fakta terpisah, melainkan membangun pemahaman bertahap yang semakin kuat ketika pembaca bergerak dari satu objek ke objek berikutnya. Dalam bentuk seperti ini, topik menjadi arsip hidup yang terbuka terhadap pembaruan, koreksi, dan pengetahuan baru.