Kawi adalah sistem tulisan historis; Jawa Kuno adalah bahasa. Keduanya berkaitan erat dalam warisan tulis Jawa, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja. Aksara Kawi juga mencatat bahasa selain Jawa Kuno, sedangkan sastra Jawa Kuno bertahan melalui tradisi naskah yang lebih kemudian. Dalam lingkungan sastra, kata Kawi sendiri dapat merujuk pada bahasa Jawa Kuno, sehingga pengenalan konteks menjadi penting.
Artikel ini mengikuti penggunaan tulisan dari prasasti dan piagam hingga puisi istana serta penyalinan berikutnya. Contohnya mencakup beberapa abad, bukan satu “Jawa kuno” yang seragam. Melalui contoh tersebut, terlihat bagaimana teks dapat mencatat hak, menghubungkan karya dengan seorang raja, atau meneruskan pengetahuan kepada pembaca lama setelah keadaan awalnya berubah.
Kawi sebagai Aksara, Jawa Kuno sebagai Bahasa
Uraian sejarah Unicode menempatkan penggunaan Kawi secara umum antara abad kedelapan dan keenam belas, dengan bahasa Jawa Kuno, Sanskerta, Melayu Kuno, Bali Kuno, dan Sunda Kuno di antara bahasa yang dicatatnya. Uraian itu juga menyebut perubahan bentuk huruf menurut masa dan tempat. Karena itu, Kawi bukan satu susunan huruf yang bentuknya selalu sama pada semua prasasti. Unicode: Kawi.
Pembedaan praktisnya sederhana: aksara menyangkut tanda yang digunakan untuk menulis, sedangkan bahasa menyangkut kata dan tata bahasa yang dicatat. Label museum sebaiknya menyebut keduanya jika diketahui. Mengenali aksara belum dengan sendirinya memastikan makna atau umur suatu bagian teks. Pengantar sistem tulisan prakolonial di museum ini memberi konteks untuk mendekati berbagai jenis bukti tersebut di Indonesia.
Cara Tulisan Kawi Menyusun Bunyi
Kawi merupakan abugida yang ditulis dari kiri ke kanan. Konsonan memiliki vokal bawaan; tanda tambahan dapat mengubah atau menghilangkan vokal itu, dan konsonan dapat bergabung dalam bentuk konjungsi. Cara kerjanya berbeda dari anggapan bahwa setiap bentuk yang terlihat adalah huruf mandiri seperti dalam tulisan Latin. Uraian Unicode menyediakan penjelasan teknis tentang mekanisme tersebut. Unicode: struktur aksara.
Bagi pembaca, hal terpenting ialah bahwa pengenalan bentuk dan pemahaman bahasa memerlukan keterampilan berbeda. Alih aksara mewakili tanda tertulis dengan aksara lain, sedangkan terjemahan menyampaikan makna dalam bahasa lain. Tanda vokal yang rusak dapat memengaruhi pembacaan, sementara kata yang tidak dikenal tetap dapat menyulitkan meskipun semua tandanya jelas. Edisi yang cermat perlu menunjukkan pemulihan teks dan pembacaan yang belum pasti, bukan menyajikan kalimat hasil rekonstruksi seolah-olah prasastinya utuh.
Batu, Tembaga, dan Bukti Fisik
Direktorat Pelindungan Kebudayaan menjelaskan kategori prasasti berdasarkan bahan, yakni batu, tembaga, dan daun lontar. Pengelompokan ini membantu memahami mengapa sejarah tulisan tidak dapat dibatasi pada monumen batu. Prasasti merupakan teks pada media tertentu, dan mengenali media tersebut adalah bagian dari memahami bendanya. Direktorat Pelindungan Kebudayaan: prasasti.
Bahan dan konteks mengarahkan pertanyaan yang berbeda. Apakah sebuah lempeng utuh atau hanya satu bagian dari satu set? Apakah batu ditemukan di tempat semula? Apakah lokasi penemuan yang dicatat memastikan tempat teks itu diperintahkan pembuatannya? Benda yang dapat dipindahkan dan monumen yang menetap dalam bentang alam memerlukan penelusuran asal-usul berbeda. Permukaan yang aus, retakan, dan bagian yang hilang juga membatasi penafsiran. Foto modern yang menarik tidak seharusnya menyembunyikan keterbatasan itu atau mengganti bukti yang bertahan dengan rekonstruksi dekoratif.
Piagam Sima: Mencatat Hak dan Kewajiban
Prasasti Kinawe menyediakan contoh bertanggal tentang hubungan tulisan dengan kewenangan. Uraian lembaga pelestarian Indonesia menanggalkannya pada 849 Saka atau 927 Masehi dan menjelaskan penetapan Kinawe sebagai desa sima yang dibebaskan dari pembayaran kepada raja. Prasasti tersebut menyebut Raja Wawa serta pejabat tinggi Mpu Sindok. Keterangan ini merupakan hubungan tertentu yang dicatat, bukan pernyataan umum mengenai semua desa di Jawa masa awal. BPK Wilayah XI: Kinawe.
Dokumen seperti ini memperlihatkan kekuasaan melalui nama tempat, jabatan, dan hak. Pertanyaan yang berguna ialah apa yang ditetapkan piagam dan bagi siapa. Ringkasan seperti “tanah bebas pajak” tidak boleh diperluas menjadi anggapan bahwa seluruh kewajiban lenyap atau semua piagam mengikuti aturan yang sama. Setiap piagam memerlukan pembacaan tersendiri. Artikel Mataram dan bentang alam sakral memberikan konteks wilayah yang lebih luas untuk mempertimbangkan hubungan lembaga dengan tempat.
Kakawin dan Istana: Arjunawiwaha Karya Mpu Kanwa
Tulisan juga mendukung penciptaan sastra. Dalam edisi Arjunawiwaha, Stuart Robson memperkenalkannya sebagai kakawin, yakni puisi berbahasa Jawa Kuno. Bagian penutupnya menyebut Mpu Kanwa, judul karya, serta Raja Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur pada abad kesebelas. Robson menilai Airlangga kemungkinan merupakan penyokong sang penyair, dengan membedakan penafsiran yang masuk akal dari informasi yang disebut langsung oleh teks. Robson: pengantar.
Hubungan penyair dan raja memberi karya sastra latar sejarah tanpa menjadikannya biografi raja secara harfiah. Tokoh pahlawan, persoalan spiritual, dan keadaan rekaan dalam narasi perlu terlebih dahulu dipahami sebagai unsur karya sastra. Hubungannya dengan gagasan kerajaan kemudian dapat ditelusuri melalui bukti dan argumentasi. Menyebut puisi sebagai “sastra istana” sebaiknya membuka pertanyaan tentang penciptaan dan khalayaknya, bukan menyederhanakan maknanya menjadi satu pesan politik saja.
Nagarakretagama: Pandangan yang Lebih Kemudian tentang Kekuasaan
Untuk abad keempat belas, Nagarakretagama menghadirkan perjumpaan sastra yang lain dengan kewibawaan penguasa. Berkas nominasi UNESCO menghubungkan karya ini dengan Prapanca dan penyelesaiannya pada 1365. Isinya menyajikan bahan mengenai Majapahit dan Raja Hayam Wuruk. Keterangan tersebut berasal dari lingkungan yang lebih kemudian daripada piagam Kinawe abad kesepuluh atau dunia Arjunawiwaha abad kesebelas. Berkas nominasi UNESCO.
Puisi yang menggambarkan dunia kerajaan perlu dibaca dengan memperhatikan sudut pandangnya. Pujian, pemilihan bahan, dan susunan tempat merupakan bagian dari cara dunia itu dihadirkan; semuanya tidak otomatis mengukur penguasaan administratif yang seragam. UNESCO mencatat Nagarakretagama sebagai warisan dokumenter pada 2013. Pengakuan itu menegaskan pentingnya pelestarian, bukan kepastian sejarah dari setiap kemungkinan penafsiran atas isinya. Daftar UNESCO.
Salinan Kemudian dan Kerja Penafsiran
Naskah British Library MSS Jav 95 memperlihatkan perbedaan aksara dan bahasa secara nyata. Katalognya menjelaskan salinan prasasti Hantang yang disusun dalam tiga versi: teks Jawa Kuno beraksara Kawi, alih aksara teks Jawa Kuno ke aksara Jawa modern, serta terjemahan bebas ke bahasa Jawa modern. Dengan demikian, sumber yang sama melewati penyalinan rupa tulisan, perubahan aksara, dan perubahan bahasa. British Library: MSS Jav 95.
Pewarisan sastra juga melibatkan pembaca. Prakata Robson mengenang keikutsertaannya dalam kelompok pembacaan di Pliatan, Bali, pada 1971 ketika ia mendengar Arjunawiwaha dilantunkan. Perjumpaan yang terdokumentasi itu merupakan bagian dari kehidupan karya yang lebih kemudian, bukan lingkungan istana asalnya. Artikel lontar Bali dan Lombok memberikan konteks bahan yang berkaitan. Penciptaan karya, penyalinan suatu naskah, dan pelantunan teksnya merupakan peristiwa sejarah yang berbeda. Robson: prakata.
Penutup
Kawi dan Jawa Kuno memperlihatkan beberapa sejarah sekaligus: penyusunan tulisan, pencatatan kewenangan, penciptaan sastra, dan penafsiran berkelanjutan atas teks warisan. Tidak ada satu benda yang mewakili semuanya.
Dalam koleksi Naskah dan Sastra, titik awal yang paling berguna ialah benda atau karya yang dapat dikenali. Penyebutan bahasa, aksara, bahan, waktu, dan tujuannya membantu pembaca menghargai arti pentingnya sambil tetap membedakan bukti yang terdokumentasi dari penafsiran kemudian.
