Lontara adalah sistem tulisan yang berkaitan dengan Sulawesi Selatan dan digunakan antara lain untuk mencatat bahasa Bugis dan Makassar. Istilah lontara’ juga muncul dalam pembahasan naskah dan catatan tertulis. Di dalamnya terdapat sejarah dan silsilah: kisah penguasa terdahulu, hubungan antarkeluarga, serta peristiwa yang dianggap perlu diingat. Karena itu, aksara, bahasa, dan tujuan sebuah teks merupakan tiga hal yang perlu dibedakan.
Halaman Lontara bukan sekadar contoh bentuk huruf yang menarik. Untuk memahami nilainya sebagai sumber sejarah, kita perlu menanyakan siapa atau apa yang dicatat, bagaimana keterangannya disusun, dan salinan fisik mana yang masih tersimpan. Silsilah menghubungkan orang, kronik menyusun kisah masa lalu, sedangkan catatan bertanggal menempatkan peristiwa dalam urutan waktu. Masing-masing membuka jalan berbeda menuju ingatan budaya.
Membaca Lontara: Huruf dan Bahasa
Lontara termasuk kelompok sistem tulisan yang lazim disebut abugida: tanda konsonan mengandung vokal bawaan yang dapat diubah dengan tanda lain. Dalam penulisan tradisional, konsonan pada akhir suku kata tidak dinyatakan. Membaca karenanya memerlukan pengetahuan bahasa dan konteks, bukan hanya mengganti setiap tanda dengan huruf Latin. Usulan pengodean Unicode menjelaskan ciri tersebut serta penggunaannya untuk bahasa Bugis, Makassar, dan Mandar. Usulan Unicode.
Hal ini penting terutama ketika mengenali nama seseorang. Transkripsi perlu memperlihatkan bagaimana penyunting membaca tulisan, sedangkan terjemahan menjelaskan maknanya dalam bahasa lain. Keduanya tidak sama dengan foto halaman. Apabila masih ada kemungkinan pembacaan lain, edisi teks sebaiknya mempertahankan ketidakpastian tersebut. Pengantar museum tentang sistem tulisan prakolonial menempatkan hubungan bahasa lisan dan tanda tertulis ini dalam konteks yang lebih luas.
Tradisi Bugis dan Makassar Memiliki Kekhasan Masing-Masing
Penggunaan aksara yang sama tidak menjadikan Bugis dan Makassar satu bahasa atau menghapus perbedaan sejarah keduanya. Ada pula aksara Makassar lama yang tersendiri, dikenal sebagai Ukiri’ Jangangjangang. Unicode membedakannya dari aksara Bugis yang juga disebut Lontara. Uraian sejarahnya menyebut penggunaan aksara Makassar lama dalam tulisan resmi abad ketujuh belas dan peralihannya ke aksara Bugis pada abad kesembilan belas. Unicode, bagian 17.2 dan 17.8.
Karena itu, naskah berlabel “Makassar” masih memerlukan penjelasan: apakah sebutan tersebut menunjukkan bahasa, aksara, atau tempat asalnya? Ketiganya tidak boleh disamakan begitu saja. Tabel huruf cetak modern juga tidak dapat dianggap sebagai faksimile setiap bentuk tulisan tangan masa lalu. Pameran dapat memperjelas perbedaan ini dengan menyebut aksara serta bahasa di samping setiap benda, bukan memasukkan seluruh tulisan Sulawesi Selatan ke dalam satu label yang seragam.
Silsilah: Mencatat Hubungan Antargenerasi
Christian Pelras menjelaskan keberadaan naskah Sulawesi Selatan yang memuat silsilah bangsawan, daftar dinasti, perjanjian, dan daftar wilayah bawahan. Bahan tersebut mempertemukan catatan asal-usul keluarga dengan susunan kehidupan politik. Keberadaannya juga mengingatkan kita bahwa kumpulan naskah dapat menyimpan beberapa jenis informasi sekaligus, bukan hanya satu cerita yang berkesinambungan. Pelras, The Bugis.
Silsilah dapat dibaca sebagai rangkaian pernyataan mengenai hubungan. Orang tua atau perkawinan siapa yang disebut teks? Siapa yang muncul berulang kali? Di mana suatu garis keturunan berakhir? Membuat bagan keluarga modern berdasarkan pernyataan tersebut dapat membantu pembaca, tetapi bagan perlu membedakan hubungan yang tertulis secara jelas dari kesimpulan penyunting. Informasi yang tidak tersedia sebaiknya dibiarkan terbuka, bukan diisi dengan hubungan yang sekadar masuk akal. Mencatat keturunan tidak sama dengan membuktikan setiap klaim keturunan secara mandiri.
Kronik dan Umur Salinan yang Bertahan
Muhlis Hadrawi, Nuraidar Agus, dan Hasanuddin memberikan contoh dalam kajian sejarah awal Sulawesi Selatan: sebuah kodeks berjudul Lontara’ Sawitto-Suppa, yang disalin Haji Paewa di Pinrang pada 1981, memuat bahan tentang kerajaan terdahulu dan hubungan silsilahnya. Kajian mereka membandingkan beberapa naskah yang memuat teks terkait. Dengan demikian, waktu penyalinan menunjukkan umur salinan fisik tertentu, bukan selalu umur informasi yang diteruskannya. Hadrawi dan rekan-rekan.
Bagi pembaca museum, pembedaan ini mencegah dua kekeliruan yang berlawanan. Naskah baru tidak otomatis kehilangan nilai untuk meneliti masa yang lebih tua; naskah yang tampak tua pun belum tentu merupakan kesaksian sezaman. Pertanyaan yang perlu diajukan menyangkut riwayat teks, sumbernya, serta perbandingannya dengan bukti lain. Artikel naskah La Galigo membahas pembedaan serupa antara tradisi sastra dan salinan yang bertahan, meskipun epos dan kronik memerlukan pendekatan berbeda.
Lontara Bilang: Catatan Bertanggal dan Ingatan Sosial
Catatan yang disebut lontara bilang sering diperkenalkan sebagai buku harian. Untuk Makassar pada awal zaman modern, sejarawan William Cummings lebih memilih memahaminya sebagai catatan peristiwa penting daripada ungkapan perasaan pribadi. Ia menafsirkan pemilihan orang dan peristiwa di dalamnya sebagai cara menggambarkan hubungan sosial serta kewibawaan. Ini merupakan pembacaan ilmiah terhadap jenis teks tersebut, bukan pernyataan bahwa penulisnya secara langsung menjelaskan tujuan mereka dengan cara demikian. Cummings, Historical texts as social maps.
Tanggal membantu menempatkan peristiwa dalam waktu, tetapi tidak menghapus pilihan pencatat. Pembacaan yang berguna menanyakan mengapa kedatangan, perkawinan, atau kematian tertentu dimasukkan dan pengalaman siapa yang tidak muncul. Satu entri dapat menyediakan bukti, sementara keseluruhan urutannya menunjukkan hal yang diutamakan. Adanya tanggal seharusnya mendorong perbandingan secara cermat, bukan menghentikannya. Demikian pula, ketiadaan keterangan dalam catatan yang tersimpan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suatu peristiwa tidak pernah terjadi.
Contoh Nyata dari Istana Bone
Naskah British Library Add MS 12355 dikatalogkan sebagai catatan harian istana Bone untuk 1774–1793. Deskripsinya menyebut beberapa tangan penulis serta keterangan perjalanan, tamu, perkawinan, kelahiran, dan kematian di samping urusan politik. Jilid ini menggunakan kertas Belanda dan tinta hitam dengan penandaan merah. Ciri tersebut menghadirkan contoh tertentu dari catatan di atas kertas, bukan gambaran umum tentang tulisan pada daun lontar. Katalog British Library.
Entri katalog lain, MSS Bugis 2, mengajukan dugaan bahwa tanggal yang terisi tanpa tanggal kosong sebagaimana lazim pada banyak buku harian menunjukkan penyalinan dari naskah asal. Hal itu dinyatakan sebagai kesimpulan dari susunan catatan. Contoh ini memperlihatkan pentingnya tata halaman selain kata-kata: urutan fisik dapat membantu penyusun katalog menanyakan apakah sebuah jilid berkembang melalui penambahan entri bertahap atau menyalin catatan terdahulu. British Library: MSS Bugis 2.
Merawat Naskah dan Pengetahuan untuk Membacanya
Survei EAP365 mendokumentasikan naskah Makassar milik sarjana lokal Djamaluddin Aziz Paramma Daeng Djaga, termasuk buku tulis dengan tulisan Bugis dan tulisan berakar pada aksara Arab. Laporan itu juga mencatat bahwa beberapa halaman tidak difoto karena alasan keagamaan. Karena itu, pelestarian melibatkan pemilik atau penjaga naskah, keterampilan membaca, serta keputusan tentang akses, selain keberlangsungan bahan kertas. Survei Endangered Archives Programme.
Rekaman digital yang berguna perlu menghubungkan gambar halaman dengan riwayat asal-usul, nomor koleksi, bahasa, aksara, dan ketentuan aksesnya. Pembaca perlu membedakan informasi yang telah ditetapkan katalog dari hal yang masih memerlukan penafsiran ahli. Koleksi Naskah dan Sastra mempertemukan persoalan ini: menyimpan gambar yang terbaca memang berharga, tetapi menjelaskan milik siapa catatan itu dan bagaimana membacanya memberi gambar tersebut makna sejarah yang lebih mendalam.
Penutup
Tulisan Lontara memungkinkan hubungan, kisah, dan urutan peristiwa disimpan dalam bentuk yang dapat disalin dan dibaca kembali. Arti pentingnya bagi sejarah terletak pada catatan tertentu tersebut sekaligus pada aksaranya.
Pembacaan yang kuat dimulai dari naskah yang dapat diidentifikasi dan mengikuti buktinya dengan cermat. Bahasa, tulisan tangan, jenis teks, riwayat penyalinan, serta penjagaan naskah membantu menjelaskan cara masyarakat Bugis dan Makassar mencatat masa lalu mereka tanpa menyederhanakannya menjadi satu cerita.
