Bonang adalah seperangkat gong kecil berpencu yang diletakkan mendatar di atas tali pada rancak kayu dan dibunyikan dengan tabuh berlapis bantalan. Dalam gamelan Jawa Tengah, bonang mengolah lagu melalui pola tabuhan yang memberi bentuk dan gerak pada gending. Artikel ini berfokus pada bonang dua deret dalam gamelan ageng serta praktik yang terdokumentasi di Yogyakarta dan Surakarta. Vetter: bonang barung.
Untuk memahami ansambelnya, mulai dari instrumen gamelan dan peran budayanya. Koleksi yang lebih luas tersedia dalam Musik dan Tari.
Gong, tali, dan rancak kayu
Setiap gong memiliki tonjolan tengah yang disebut pencu. Rancak menopang gong dengan pencu menghadap ke atas agar mudah dijangkau tabuh. Inventaris Yogyakarta yang disusun Vetter mencatat bonang barung dengan sepuluh atau dua belas gong untuk slendro dan empat belas untuk pelog. Jumlah gong bergantung pada laras dan susunan instrumennya. Bonang barung Yogyakarta.
Perunggu merupakan salah satu bahan yang terdokumentasi, tetapi ada pula bonang besi. Koleksi Grinnell menjelaskan contoh dua belas gong besi yang dibuat dari sambungan komponen pelat logam dan ditopang tali pada rancak kayu persegi panjang. Konstruksinya dapat dibandingkan dengan bukti bengkel dalam artikel pembuatan gong perunggu Jawa. Catatan koleksi Grinnell.
Barung, panerus, dan panembung
Nama bonang membedakan wilayah nada sekaligus ukuran. Dalam uraian Vetter tentang gamelan Keraton Yogyakarta, bonang barung berada di wilayah tengah, panerus—juga ditulis penerus—di wilayah tertinggi, dan panembung di wilayah terendah. Gong panerus lebih kecil, sedangkan gong panembung lebih besar. Hubungan ini membantu menjelaskan mengapa rancak yang tampak serupa memiliki tempat berbeda dalam jalinan musik. Vetter: bonang penerus.
Memukul dan mengendalikan dengung
Pengrawit memegang satu tabuh kayu berlapis bantalan pada setiap tangan dan memukul pencu. Catatan Grinnell menjelaskan bunyi bernada jelas, dengan awal yang tajam dan dengung yang bertahan cukup lama sehingga perlu dikendalikan melalui peredaman. Mendengarkan awal dan akhir bunyi memperjelas kendali pemain, melampaui gerakan memukul yang terlihat. Grinnell: permainan dan produksi bunyi.
Mipil dan imbal: membentuk alur lagu
Penelitian Teguh dan Widiandari tahun 2021 menjelaskan teknik bonang barung dalam karawitan gaya Surakarta. Pada mipil, nada dimainkan satu per satu secara bergantian; bonang dapat mendahului pasangan nada balungan dan menuntun penabuh saron. Imbal menggabungkan pukulan bergantian antara bonang barung dan bonang panerus menjadi pola bersama. Teknik tersebut dipilih dalam garap gending, bukan berupa satu pola yang diulang pada setiap sajian. Teguh dan Widiandari, hlm. 24–25.
Konteks terdokumentasi: soran Yogyakarta
Keraton Yogyakarta mencantumkan bonang barung dan panerus sebagai instrumen gendhing soran, dengan panembung untuk perangkat gamelan tertentu. Soran merupakan sajian lantang pada awal uyon-uyon dan sebagai penanda dimulainya beberapa acara pertunjukan. Album keraton tahun 2021 memberi konteks rekaman yang jelas untuk mendengarkan bunyi ansambel tersebut. Untuk perbandingan daerah, lihat gamelan Jawa dan Bali. Keraton Yogyakarta: Gendhing Soran Volume 1.
Bonang dalam koleksi museum
Metropolitan Museum of Art mencatat Bonang Barung or Kromo, nomor inventaris 89.4.777a–c, sebagai instrumen Jawa dari akhir abad kesembilan belas. Bahan yang tercatat ialah perunggu, kayu, kain felt, dan pewarnaan polikrom; catatan tersebut menyebut sepuluh gong. Rincian ini mengidentifikasi satu instrumen bersejarah di antara susunan bonang yang lebih luas sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Catatan koleksi Met.
Pajangan interpretatif dapat menghubungkan benda semacam ini dengan rekaman dan penjelasan tentang bagian yang dimainkan pengrawit. Rancak memperlihatkan susunannya; bunyi menjelaskan bagaimana pukulan gong yang terpisah membentuk alur musik.
