Naskah Jawi di Indonesia: Tulisan Melayu, Islam, dan Pertukaran Maritim

Naskah Melayu beraksara Jawi menghubungkan pembelajaran Islam, dokumen istana, dan jaringan penyalinan dari Sumatra dan Riau hingga Semarang dan Makassar.

Bagikan artikel ini:XFacebookLinkedInWhatsApp
Ilustrasi lembaran kertas yang dijahit dan selembar kertas lepas yang mewakili bahan naskah Melayu dalam warisan budaya Indonesia.
Ilustrasi interpretatif bahan naskah secara umum, dengan halaman kosong dan latar laut abstrak; bukan reproduksi naskah Jawi, tulisan, atau penjilidan bersejarah tertentu.

Naskah Jawi adalah teks tulisan tangan berbahasa Melayu yang menggunakan aksara Arab yang diadaptasi. Di Indonesia, tradisi ini berkaitan dengan masyarakat berbahasa Melayu dan jaringan keilmuan Islam. Sering disebut Arab-Melayu, Jawi digunakan untuk cerita, pengajaran agama, surat-menyurat, dan tulisan hukum. Dwi Essy Ramala menempatkan penggunaan tersebut dalam sejarah kebudayaan Melayu. Ramala.

Koleksi naskah dan sastra museum menempatkan Jawi bersama tradisi tulis lainnya. Tinjauan sistem tulisan prakolonial memperkenalkan konteks yang lebih luas itu; di sini, naskah dan koleksi yang dapat diidentifikasi memperlihatkan hubungan antarmasyarakat di berbagai pulau melalui tulisan Melayu.

Huruf Arab untuk Kata-Kata Melayu

Jawi ditulis dari kanan ke kiri dan mengadaptasi bentuk huruf Arab untuk bunyi bahasa Melayu. National Heritage Board Singapura menjelaskan adaptasi ini sebagai bagian dari pengaruh Islam terhadap kebudayaan sastra Melayu. National Heritage Board.

Aksara dan bahasa perlu diidentifikasi secara terpisah. Teks Melayu beraksara Jawi berbeda dari teks berbahasa Arab, meskipun keduanya ada dalam satu koleksi. Jawi juga berbeda dari tulisan Pegon dalam bahasa Jawa dan Sunda, yang juga mengadaptasi huruf Arab. Mengenali aksara menjadi langkah awal untuk membaca kata-kata dan memahami khalayaknya.

Pembelajaran Islam di Surau Sumatra Barat

Proyek EAP144 dari Endangered Archives Programme mendokumentasikan koleksi naskah di surau, lembaga Islam setempat di Sumatra Barat. Laporan proyek mencatat tafsir Al-Qur’an, tasawuf, fikih, tata bahasa, cerita, surat, dan pengobatan. Naskah abad ke-18 dan ke-19 ini menggunakan bahasa Arab, Melayu, dan Minangkabau; sebagian besar ditulis pada kertas Eropa, sebagian lainnya pada daluang. EAP144.

Lingkungan multibahasa ini membantu menjelaskan kedudukan Jawi dalam pembelajaran Islam. Bahasa Melayu menjadi sarana penyampaian pengetahuan dalam kebudayaan naskah yang juga menyimpan karya berbahasa Arab dan bahasa setempat. Koleksi tersebut mencakup lebih dari naskah Jawi: identifikasi bahasa setiap teks memperlihatkan bagaimana pembelajaran berlangsung di antara bahasa-bahasa itu.

Catatan Penyalinan antara Semarang dan Makassar

Naskah British Library Or 14350 memuat Hikayat Raja Handik dan Hikayat Raja Pasai yang tidak lengkap, dalam bahasa Melayu beraksara Jawi. Kolofon karya pertama mencatat penyalinan pada 6 Februari 1797: Encik Usman menyalinnya di rumah Encik Johar, Kampung Melayu, Semarang, untuk Encik Usep dari Makassar, menggunakan naskah milik Abdullah, Kapitan Melayu Semarang. Katalog British Library.

Catatan itu menyebut penyalin, tuan rumah, pemesan, dan pemilik naskah yang terhubung dengan dua pelabuhan. Ini merupakan bukti konkret hubungan sastra antarpulau, meskipun tidak merinci perjalanan laut salinannya. Tanggal tersebut merujuk pada kegiatan penyalinan ini, bukan penciptaan awal kedua cerita.

Riau-Lingga: Tulisan di Luar Kitab Agama

Sebuah dokumen pemerintahan Riau-Lingga, bernomor koleksi 2001-00374 di Asian Civilisations Museum Singapura, memuat tulisan Jawi dan tanggal 1310 H / 1892 M. Dokumen ini menunjukkan penggunaan aksara tersebut dalam administrasi istana, selain dalam sastra dan kehidupan keagamaan. National Heritage Board.

Proyek pelestarian EAP153 menggambarkan Penyengat sebagai pusat kebudayaan buku abad ke-19 yang berkaitan dengan Raja Ali Haji. Laporannya juga menyoroti koleksi di Lingga, Natuna, dan Karimun. Koleksi pulau-pulau tersebut memperluas gambaran melampaui satu pengarang atau istana: isinya membantu menelusuri bacaan dan bahan yang disimpan para pemilik. EAP153.

Jika dibaca bersama artikel teks suci dan naskah kepulauan Indonesia, dokumen-dokumen itu memperlihatkan pentingnya jenis teks. Pembelajaran agama, pembacaan cerita, dan administrasi menggunakan tulisan tangan untuk keperluan yang berbeda.

Membaca Naskah sebagai Benda

Kertas menghubungkan halaman bertulis dengan pertukaran bahan. National Heritage Board mencatat kertas Eropa impor, tinta hitam, serta lembaran lepas atau dijahit sebagai bagian dari praktik pembuatan naskah Melayu. National Heritage Board.

Dalam pameran, teks, catatan penyalinan, kertas, dan riwayat koleksi berikutnya dapat dibaca bersama. Lembaran kosong pada gambar merupakan ilustrasi interpretatif bahan naskah; untuk meneliti ejaan atau tulisan tangan Jawi yang sesungguhnya, diperlukan halaman naskah sejarah yang telah didigitalkan.

Pelestarian juga melibatkan kerja sama setempat dan internasional. Perpustakaan Nasional melaporkan bahwa Hikayat Aceh, yang diajukan bersama Perpustakaan Universitas Leiden, masuk dalam Register Memory of the World UNESCO pada 2023. Perpustakaan Nasional. Sejarah Jawi paling jelas dipahami melalui bukti-bukti khusus ini: halaman yang dibuat, dibaca, disalin, dan dilestarikan oleh orang serta lembaga yang dapat diidentifikasi.

Poin utama

Sumber