Pegon adalah adaptasi aksara Arab untuk menuliskan bahasa setempat, terutama bahasa Jawa dan Sunda, di kalangan komunitas Muslim di Pulau Jawa. Huruf-hurufnya dapat memuat terjemahan Jawa atas pelajaran berbahasa Arab maupun puisi Sunda tentang pengalaman rohani. Mengenali bentuk huruf turunan Arab baru merupakan langkah awal: pembaca juga perlu mengetahui bahasa dan cara penggunaan teksnya.
Koleksi manuskrip dan sastra museum menempatkan Pegon dalam sejarah penulisan yang lebih luas. Artikel tentang aksara prakolonial memperkenalkan keragaman tersebut; Pegon memperlihatkan lebih dekat bagaimana pembelajaran Islam berlangsung melalui bahasa setempat.
Menyesuaikan Huruf dengan Bunyi Setempat
Pegon ditulis dari kanan ke kiri. Penulis memakai huruf Arab untuk konsonan yang memiliki padanan, lalu menyesuaikan bentuk huruf untuk bunyi yang tidak mempunyai padanan langsung dalam bahasa Arab. Sri Wahyuni dan Rustam Ibrahim menjelaskan penambahan titik untuk bunyi seperti c dan ng, serta penggunaan alif, wau, dan ya untuk mewakili vokal. Penyesuaian ini memungkinkan aksara Arab dipakai untuk sistem bunyi yang berbeda. Wahyuni dan Ibrahim.
Halaman yang tampak berhuruf Arab belum tentu berbahasa Arab. Sebutan Pegon sendiri juga belum menjelaskan apakah kata-katanya berbahasa Jawa atau Sunda. Pembedaan ini penting pula ketika membaca manuskrip Lontara, yang menggunakan satu sistem tulisan untuk lebih dari satu bahasa.
Belajar melalui Makna Gandhul
Di pesantren, Pegon membantu santri mengikuti teks Arab melalui penjelasan dalam bahasa setempat. Kajian Ahmad Baidowi tentang tafsir Al-Qur'an berbahasa Jawa membahas makna gandhul, terjemahan kata demi kata yang sekaligus mendukung pembelajaran tata bahasa Arab. Contohnya mencakup Al-Ibrīz karya KH Bisri Mustafa, Al-Iklīl karya KH Misbah Mustafa, dan Al-Maḥallī karya KH Mudjab Mahalli. Baidowi.
Halaman seperti ini mempertemukan dua kegiatan: mempertahankan susunan kata Arab agar tetap terlihat dan menyampaikan maknanya dalam bahasa Jawa. Terjemahan menjadi bagian dari perangkat belajar, memperlihatkan bagaimana pembaca bekerja di antara dua bahasa.
Naskah Kertas dengan Dua Bahasa
Naskah British Library Or 16878 merupakan contoh yang dapat diidentifikasi. Katalog menempatkannya pada akhir abad ke-19 dengan asal Jawa. Isinya berupa teks Arab dengan terjemahan antarbaris berbahasa Jawa dalam Pegon. Sebanyak 157 folionya menggunakan kertas Belanda kecokelatan, tinta hitam dan merah, serta jilid karton cokelat dengan penutup berbentuk flap amplop. Katalog British Library.
Ruang di antara baris sama pentingnya dengan teks utama karena menampung bahasa lain. Dalam pameran museum, tampilan dekat susunan tersebut dapat menjelaskan fungsi naskah dengan lebih jelas daripada pembesaran satu huruf saja.
Puisi Sunda dan Pemikiran Tasawuf
Pegon juga menjadi sarana penciptaan sastra. Kajian Jajang A. Rohmana mengidentifikasi lebih dari 10.000 bait puisi tasawuf Sunda beraksara Pegon karya Haji Hasan Mustapa (1852–1930). Dangding-nya memakai bentuk metrum yang disebut pupuh. Rohmana membahas salinan naskah di Leiden, termasuk Cod. Or. 7872–7879, dan menafsirkan karya Mustapa sebagai pertemuan pemikiran tasawuf dengan ekspresi budaya Sunda. Rohmana, terutama hlm. 309–311.
Di sini, bahasa setempat membentuk karya sastra itu sendiri. Pegon merekam puisi Sunda, bukan sekadar memberi keterangan atas teks asli berbahasa Arab.
Babad di Luar Ruang Belajar
Babad Diponegoro menunjukkan penggunaan lain: penulisan sejarah autobiografis dalam tembang macapat berbahasa Jawa. Dokumen nominasi UNESCO mengidentifikasi KBG 282 di Perpustakaan Nasional Indonesia sebagai salinan Pegon yang dibuat pada 1865–1866 dari naskah asli Diponegoro, yang ditulis antara 20 Mei 1831 dan 5 Februari 1832. Tanggal-tanggal ini membedakan salinan yang bertahan dari penyusunan karya sebelumnya. Dokumen nominasi UNESCO, bagian 3.1.
Membaca Pegon sebagai Warisan Hidup
Penelitian tahun 2024 oleh Sahal Mahfudh dan Abdul Aziz El Tiganiy mengkaji tujuh komunitas pesantren tradisional beserta jejaring terkait di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Rembang, Tuban, dan Kediri. Kajian itu mendokumentasikan penerjemahan, pengajaran, produksi, dan peredaran teks Pegon yang terus berlangsung. Mahfudh dan El Tiganiy.
Pegon hadir dalam koleksi naskah sekaligus praktik belajar. Jika dibaca bersama artikel teks suci dan manuskrip kepulauan Indonesia, contoh-contoh ini mengajak kita memperhatikan bahasa, bahan, tata letak, dan pembaca sebuah halaman. Masing-masing memperlihatkan cara aksara Arab menjadi sarana pengetahuan setempat.
