Naskah lontar adalah buku yang dibuat dari daun palem yang telah diolah, dengan bentuk panjang dan sempit yang terutama dikenal dalam tradisi tulis Bali dan Lombok. Artikel ini mengikuti cara-cara yang terdokumentasi di Bali: bagaimana daun menjadi media tulis, bagaimana aksara digores dan diperjelas, serta bagaimana naskah dirawat setelah ditulisi. Sejarah lontar di Bali dan Lombok membahas lingkungan sastra dan keagamaannya secara lebih luas.
Memilih Daun dan Menyiapkan Permukaan
Dalam penelitian tahun 2018, Nyoman Rema dan Ida Bagus Rai Putra mewawancarai pembuat lontar di Karangasem, termasuk Ida I Dewa Gde Catra dan I Ketut Sengod. Mereka menjelaskan pemilihan daun yang tidak terlalu muda dan lunak, tetapi juga tidak terlalu tua dan keras, lalu pengeringan, perendaman, dan perebusan dengan bahan tumbuhan. Uraian mereka mencatat perendaman selama tiga minggu dan perebusan selama delapan jam. Rema dan Putra, hlm. 7–9.
Cara pengolahan tidak selalu sama. Panduan pembelajaran Direktorat SMA tahun 2021 menjelaskan perendaman selama tiga sampai empat hari, penjemuran, penyikatan dengan sabut kelapa, dan perebusan dengan bahan seperti cengkeh, merica, dan kulit kelapa. Padi yang dimasak bersama daun menjadi patokan praktis untuk mengetahui kematangannya. Perbedaan kedua uraian ini menunjukkan bahwa satu jadwal pengolahan tidak mewakili semua tempat pembuatan lontar. Direktorat SMA, hlm. 50–51.
Uraian Museum Asia dan Pasifik menambahkan pengepresan, pemotongan akhir, penghalusan dengan batu apung atau kertas abrasif, pelubangan, dan penggarisan. Pekerjaan ini mengubah bahan tumbuhan yang tidak rata menjadi lembaran tulis yang tersusun sejajar. Bentuk persegi panjang yang rapi pada naskah merupakan hasil pekerjaan sebelum aksara pertama dibuat. Museum Asia dan Pasifik, hlm. 110–112.
Menggores Aksara dengan Pengrupak
Pengrupak, yang juga ditulis pengerupak, adalah pisau kecil untuk menulis lontar. Panduan Direktorat SMA menjelaskan alat berbahan baja dengan ujung runcing berbentuk segitiga serta membedakan alat untuk menulis dan menggambar. Penulisan dimulai dengan menggores permukaan daun, bukan menorehkan garis tinta cair. Direktorat SMA, hlm. 50.
Rema dan Putra menjelaskan kerja sama kedua tangan: satu tangan memegang dan menggeser daun, sementara tangan lainnya mengendalikan pisau, dengan ibu jari penopang membantu mengarahkan gerakannya. Mereka juga menekankan penguasaan bahasa, aksara, dan ejaan teks yang disalin. Keterampilan ini mempertemukan kendali tangan dengan kemampuan membaca. Rema dan Putra, hlm. 10.
Untuk memahami perbedaan bahasa dan tanda tulisnya, lihat aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuno. Menyiapkan daun, memilih aksara, serta menggubah atau menyalin karya merupakan bagian-bagian berbeda dalam pembuatan naskah.
Memperjelas Alur Goresan
Goresan baru kadang sulit dilihat. Melalui pengamatan di Jero Kanginan Sidemen dan Pidpid, Abang, Rema dan Putra mencatat penyelesaian permukaan menggunakan kemiri yang telah dibakar. Bahan gelapnya masuk ke dalam goresan, lalu permukaan daun dilap. Aksara yang tampak mengikuti alur yang sebelumnya dibuat oleh pisau. Rema dan Putra, hlm. 9–10.
Uraian museum juga menjelaskan penghitaman dengan kemiri dan pengelapan, dilanjutkan dengan menyusun lembaran di antara papan kayu serta memasukkan tali melalui lubang tengah. Papan melindungi berkas naskah, sedangkan bentuknya yang terdiri atas lembaran lepas menjadikan urutan daun bagian dari perawatannya. Museum Asia dan Pasifik, hlm. 111–112.
Perawatan dalam Koleksi Masyarakat
Penelitian I Nyoman Sedana dan rekan-rekannya di Klungkung pada 2013 mencatat penyimpanan di lingkungan rumah atau pura, penghaturan banten, pembersihan kropak dan pelinggih penyimpanan pada hari Saraswati, serta penggunaan minyak serai yang dicampur kemiri. Penelitian itu juga mencatat penulisan kembali daun yang rusak oleh orang yang menguasai aksara Bali. Semua ini merupakan praktik para pengelola yang diteliti, bukan resep perawatan untuk setiap naskah yang masih ada. Sedana dan rekan-rekan.
Penyalinan menjaga akses terhadap teks melalui salinan fisik yang lain. Namun, penyalinan tidak mempertahankan seluruh bukti material pada daun lama. Pencatatan mengenai lembaran yang berada dalam satu naskah, bagian yang diganti, dan orang yang membuat salinan membantu pembaca memahami benda sekaligus proses pewarisannya.
Digitalisasi dan Penyajian di Museum
Laporan DREAMSEA tentang koleksi I Wayan Wandra di Sukawati, Gianyar, menjelaskan pembersihan dan pemilahan sebelum pemotretan 68 berkas naskah yang menghasilkan lebih dari 2.000 citra digital. Mahasiswa Universitas Udayana dan penyuluh bahasa Bali ikut membantu. Contoh ini memperlihatkan pelestarian sebagai pekerjaan bersama pemilik koleksi, ahli naskah, fotografer, dan komunitas bahasa. DREAMSEA.
Catatan koleksi juga menyediakan benda yang dapat ditelusuri pengunjung. Library of Congress mencantumkan Fragmen kakawin Bharatayudha, naskah MLCHE 2011/00024 SEA Cage, dengan perkiraan tahun 1900. Tanggal katalog tersebut merujuk pada salinan naskah, bukan selalu pada masa penciptaan teksnya. Library of Congress.
Pameran dapat menempatkan daun siap tulis di samping lembaran bertulis dan pisau tulis, sehingga pengunjung dapat mengikuti perubahan dari serat tumbuhan menjadi permukaan yang terbaca. Pembesaran digital kemudian memperlihatkan alur goresan tanpa mengharuskan penanganan berulang atas naskah asli. Jelajahi koleksi Manuskrip dan Sastra serta sistem tulisan prakolonial untuk melihat hubungan lain antara bahan, aksara, dan pengetahuan.
